Hari ini, televisi digital siaran multicast (bersamaan di satu waktu) menggunakan jaringan IP dapat dijalankan karena teknologi dan model bisnisnya telah menemukan format yang cukup matang. Menghadapi kompetisi ketat dari perusahaan televisi kabel, yang juga menyediakan paket triple-play (data, audio-video, dan interaktivitas), PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk akan berekspansi di penerapan IPTV di negeri ini. Operator telekomunikasi memasuki pasar televisi digital, walau belum jelas apakah model bisnis IPTV di negeri ini bisa diterapkan seperti model yang telah dijalankan di luar negeri.

Banyak analis meragukan kemampuan dan potensi pasar IPTV untuk mengembangkan sayapnya, mengingat infrastruktur Indonesia yang belum sepenuhnya terbangun. Selain itu, banyak pakar meragukan kemampuan perusahaan telekomunikasi (“telco”) berkompetisi dengan perusahaan televisi kabel (lembaga penyiaran berlangganan). Masalah lain adalah regulasi yang belum jelas bagi “pemain hibrid” seperti penyelenggara IPTV; apakah masuk domain UU 36/1999 tentang Telekomunikasi (perihal jasa telekomunikasi khusus, tapi bendera IPTV belum dikenal sama sekali), ataukah domain UU 32/2002 tentang Penyiaran (yang tidak dijelaskan di dalam pasal-pasal Lembaga Penyiaran Berlangganan yang hanyak via satelit, kabel, atau terestrial, bukan jaringan menggunakan protokol internet).

Kompleksitas dan dinamika industri telekomunikasi dan penyiaran juga terjadi sebelum fenomena IPTV muncul; yakni saat Kabelvision (sekarang bernama First Media) tampil dengan layanan sambungan internet 24 jam (dengan flat fee). Dalam konteks ini, sebuah model bisnis yang jelas dan komprehensif kemudian menjadi mutlak dibuat oleh operator telekomunikasi seperti Telkom (brand-name: TVision>, di bawah bendera PT Indonusa Telemedia, seperti halnya Telkomvision yang berbasis satelit dan kabel).

Tak ada pakem model bisnis IPTV di dunia ini, terlihat dari kajian Doherty et al (2004) yang memfokuskan pada arsitektur dan kualitas layanan (QoS atau Quality of Service), atau kajian Liu (2006) tentang prospek finansial model baru IPTV. Konsepsi umum tentang model bisnis ini tak jelas. Terkadang orang menyebut IPTV sebagai layanan siaran atau on-demand video menggunakan IP (internet protocol) yang disalurkan (streaming) melalui dekoder atau set-top-box ang tersambung ke televisi atau PC (personal computer). Ia kemudian terangkai menjadi infrastruktur jaringan point-to-point, yang didukung teknik penyiaran video secara multicast (bersamaan di satu waktu). Perusahaan televisi berlangganan baik via kabel ataupun satelit tidak memiliki definisi ini, karena mereka tak menggunakan jaringan berbasis IP, dan tidak memiliki arsitektur point-to-point. Televisi berbasis web juga tidak termasuk di sini, karena secara layanan, manajemen, platform, dan model pendapatan berbeda.

Untuk itu, mari fokuskan ke operator teleponi seperti yang dikaji oleh Limnard & Tee (2007). Sebagai bagian dari rantai bisnis IPTV, perusahaan teleponi telah mengembangkan layanan TV digital dengan protokol internet; yang dilakukan karena pendapatan dari teleponi konvensional menurun drastis. Dengan menaikkan citra produk mereka dapat menggabungkan (bundling) produk “lamanya” dengan paket layanan yang memang ditujukan untuk pelanggan (baik pasca-bayar ataupun sistem penagihan lain). Mereka juga menggunakan aset untuk mentransformasikan multi-jaringan yang telah mereka bangun menjadi jaringan yang efisien.

***

Diperkirakan di tahun 2010 IPTV akan lepas landas. Tahun 2025 akan ada satu standar saja untuk cara menonton TV. Itulah IPTV, Internet Protocol Television. IPTV menggunakan semacam dekoder atau set-top box yang tersambung ke broadband interface dan TV. Perangkat ini akan memilih di antara ribuan, bahkan ratusan ribu jam acara, termasuk film, olahraga, acara lama TVRI, dan Anda bisa mengunduh (download) semuanya ke hard drive dari set-top box Anda.

Di awal kelahiran IPTV, hard drive ini mampu menyimpan hingga 300 jam acara dalam satu waktu, namun kapasitas akan berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi. Selain itu, kelak kecepatan mengunduh akan semakin baik di saat koneksi broadband Anda kian prima. Kelak sebuah film berdurasi dua jam akan diunduh dalam 2 menit saja. Di saat itu, menonton film tersebut bisa dilakukan di mana saja, selama ada interface yang sesuai. Selain kenyamanan atas fasilitas video-on-demand (VOD) ini, IPTV akan memberikan keleluasan perpustakaan acara (content) dari segala genre dan durasi, yang tak pernah diberikan oleh media manapun. Tak ada TV broadcast, kabel, satelit, atau bahkan jasa penyewaan video. Karena semuanya tersedia di internet, yang bersifat tak terbatas dan tak terhalangi, mengunduh film menjadi pengalaman yang bisa jadi membingungkan jika tak tahu apa yang Anda inginkan. Kebanyakan platform IPTV dibagi menjadi “saluran-saluran” yang mirip dengan saluran yang ada di TV tradisional.

Dalam hal ini saluran didefinisikan sebagai bagian dari layanan content provider (penyedia isi saluran). Sebagian content provider akan memberikan gratis, sebagian lain akan meminta uang berlangganan (bulanan atau tahunan), dan sebagian lain dengan sistem pay per view (bayar per lihat) saja. Jasa ini akan di-mix ‘n match sebagai paket operator IPTV. Di antara yang sudah berjalan, ada PCCW (www.pccw.com), DAVETV (www.davenetworks.com), dan Gizmodo (www.gizmodo.co.uk) milik British Telecom, BrightCove (www.brightcove.com). Raksasa macam AT&T serta Time Warner (www.BusinessLink.tv) baru saja melakukan uji coba. Silakan klik situs mereka untuk tata cara dan model bisnis masing-masing. Daftar ini akan berkembang terus… bahkan bisa jadi sebuah operator IPTV beroperasional di sebuah desa kecil di satu daerah terpencil.

***

Dua puluh tahun ke depan, semua kehebohan TV broadcast macam RCTI, Trans TV dan lain-lain akan lewat. Nature dari IPTV adalah “Aku mau tontonan yang aku mau saja”, dan kecenderungan ini telah terlihat dari maraknya content musik yang diunduh atau dijadikan ring back tone telepon genggam. Masalahnya sekarang, segala macam jenis tayangan bisa nyelonong masuk ke telepon genggam, ataupun kelak ke layar komputer PC Anda. Televisi satelit dan kabel masih lebih beruntung daripada TV dengan siaran terestrial. Dengan model bisnis yang lebih mendekati IPTV, TV satelit dan kabel akan memberikan kemudahan di saat koneksi internet down.

Iklan? Personal, dan lebih terukur (karena identitas penontonnya jelas, ada IP number, bukan?). Ini dari sisi permintaan, bagaimana dengan sisi penawaran? Siapapun bisa menyuplai isi siaran bagi apapun saluran yang ada di internet. Banyaknya penawaran juga sebanding dengan banyaknya permintaan? Mungkin juga, karena itu Web 2.0 akan bergerak naik ke Web 3.0 dan menjadi ajang tukar content untuk kalangan tertentu saja. Akan ada bottleneck untuk satu “tayangan” karena sedang trend, ya seperti penggila “Laskar Pelangi”, misalnya. Namun jika kreativitas orang membuat genre apapun dalam bentuk file audio video, yakinlah bottleneck ini akan terurai dengan sendirinya. Contohnya, peminat Laskar Pelangi hanya memasukkan kata kunci “Andrea Hirata” atau “Laskar Pelangi” saja, dan yang keluar tak hanya film Laskar Pelangi tapi juga kajian ilmiah sastra, jumpa pers penerbit dan pengarang di suatu restoran, diskusi buku terkait karya Andrea Hirata ini, klip lagu yang dibawakan Nidji hingga komentar kerabat Anda di Afrika Selatan setelah menonton film ini. Unlimited for the unlimited.

***

(dokumen di bawah ini diterjemahkan dari http://www.broadbandservicesforum.org)I N T R O D U K S I

Layanan broadband bergerak dari hanya penyedia sambungan (connectivity) menjadi penyedia layanan (services), yang kemudian dikenal dengan IPTV. Apa dan bagaimana sesungguhnya IPTV itu, di bawah ini beberapa konsep dasar IPTV.

D E F I N I S I

Sesungguhnya IPTV memiliki dua komponen:

Bagian 1:

Internet Protocol (IP): menegaskan format paket dan skema alamat, karena hampir seluruh jaringan menggabungkan IP dengan protokol lebih canggih. Tergantung dari vendor, UPD (user datagram protocol) adalah protokol yang biasa dipakai. Protokol ini menghubungkan sumber data dan tujuan. IP menghubungkan informasi dan memakai informasi ini dalam sebuah sistem, tapi tak ada pranala langsung antara sumber dan penerima informasi.

Bagian 2:

Television (TV): adalah medium untuk berkomunikasi yang bekerja dengan menyampaikan gambar dan suara. Semua orang tahu TV, tapi di sini lebih dikenal dengan layanan linera dan programming yang diinginkan (on demand). Tambahkan keduanya

IP + TV = IPTV
IPTV: adalah medium untuk komunikasi gambar dan suara yang bekerja dengan dan di dalam jaringan IP.

Catatan: harus ditegaskan bahwa layanan IPTV bekerja melalui jaringan IP pribadi dan bukan jalur internet publik. Dengan jalur pribadi ini, penyedia layanan IPTV harus menjamin kualitas layanan (quality of service / QoS) untuk pelanggannya. QoS bisa berupa prioritas trafik IP kepada pelanggannya dibanding trafik IP lain (gratis). Dalam jaringan IPTV, sinyal televisi adalah layanan utama. Hasilnya, layanan TV adalah langsung, tak perlu mengunduh (download) untuk layanan isi yang linear ataupun yang diinginkan (on demand). Model layanan IPTV memberikan isi (content) yang biasa diberikan oleh televisi terestrial (dengan jalur udara/aerial) ataupun berlangganan (dengan jalur kabel/satelit), termasuk tayangan langsung (live, real time). IPTV juga bisa memberikan layanan VOD (video on demand); selain juga layanan unik lain yang membedakannya dari pesaing (VOIP, transaksi online, dan seterusnya).

D A M P A K – I P T V

Dampak IPTV terhadap industri dapat dibedakan dalam 3 domain:

Content (isi) : teknologi IPTV memudahkan produksi isi (content) dan memudahkan akses mendapatkan isi itu (selain menjaga keamanan saat mengakses).

Convergence (konvergensi) : pemakaian jaringan IP memudahkan aplikasi tunggal untuk digunakan oleh berbagai perangkat akhir di dalam sebuah jaringan layanan.

Interactivity (interaktivitas) : pola alamiah jaringan IP yang dua arah memudahkan dialog antar-pemangku kepentingan (pelanggan, penyedia jasa isi, dan penyedia layanan).

IPTV bekerja dengan ketersediaan teknologi jaringan, untuk itu arsitektur jaringan menggunakan IPTV sangat penting. Pengantaran isi (content) mengharuskan bandwidth dan tampilan prima, tak hanya di ujung jaringan (last mile yang terdapat di jaringan akses) tapi juga di pinggir dan tengah jaringan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Model layanan IPTV, dan keuntungan pasarnya, adalah konsepsi baru. Namun, pengembangan termutakhir membuat pengantaran IPTV menjadi layanan yang aman, bisa diukur, dan tak memakan biaya tinggi.

Pengembangan ini termasuk: – pembangunan ethernet gigabit – kemampuan jaringan IP untuk keamanan dan QoS – pengembangan router IP dan switcher untuk jaringan IP – pembuatan applikasi penengah (middleware applications) yang canggih dan dapat mengatur pengantaran video di dalam jaringan dengan lebih mudah

E L E M E N – J A R I N G A N – I P T V

Sistem IPTV dibangun dari empat elemen utama; semuanya adalah istilah generik yang biasa digunakan dalam sebuah arsitektur IPTV. Arsitektur subsistem IPTV yang unik mewajibkan setiap vendor untuk menerapkan layanan IPTV secara unik dan kompleks pula. Bagan di atas juga mengilustrasikan jaringan IPTV dalam dua arah kerja, yang kemudian memberikan keuntungan dibanding model televisi konvensional yang satu arah. Harus dipahami juga bahwa elemen jaringan IPTV membentuk sebuah arsitektur dengan SDV (switched digital video):

Switched digital video (SDV) – panduan dalam sebuah arsitektur jaringan dari sistem distribusi TV (yang hanya menyalurkan satu kanal untuk setiap rumah tangga individu yang tersambung). Hal ini memudahkan penyedia layanan tak mendapatkan perhitungan linear optimal dari sebuah kanal. Vendor IPTV akan melihat banyak varian arsitektur SDV yang memberikan keunggulan saat menggunakan IP multicast untuk menyalurkan aliran sinyal TV (broadcast streaming). Protokol paling umum untuk mengubah kanal saat menggunakan lingkungan SDV adalah IGMP (IP Group Membership Protocol).

The Video Head End

As with a digital cable or digital satellite television system, an IPTV service requires a video head end. This is the point in the network at which linear (e.g., broadcast TV) and on‐demand (e.g., movies) content is captured and formatted for distribution over the IP network. Typically, the head end ingests national feeds of linear programming via satellite either directly from the broadcaster or programmer or via an aggregator. Some programming may also be ingested via a terrestrial fiber‐based network. A head end takes each individual channel and encodes it into a digital video format, like MPEG‐2, which remains the most prevalent encoding standard for digital video on a worldwide basis. Broadband service providers are also beginning to use MPEG‐4‐based encoding, as it has some advantages over MPEG‐2, such as lower bit‐rate requirements for encoding both SD and HD television signals. After encoding, each channel is encapsulated into IP and sent out over the network. These channels are typically IP multicast streams, however, certain vendors make use of IP unicast streams as well. IP multicast has several perceived advantages because it enables the service provider to propagate one IP stream per broadcast channel from the video head end to the service provider access network. This is beneficial when multiple users want to tune in to the same broadcast channel at the same time (e.g., thousands of viewers tuning in to a sporting event).

The Service Provider Core/Edge Network

The grouping of encoded video streams, representing the channel line up, is transported over the service provider’s IP network. Each of these networks are unique to the service provider and usually include equipment from multiple vendors. These networks can be a mix of well‐engineered existing IP networks and purpose‐built IP networks for video transport. At the network edge, the IP network connects to the access network.

The Access Network

The access network is the link from the service provider to the individual household. Sometimes referred to as “the last mile”, the broadband connection between the service provider and the household can be accomplished using a variety of technologies. Telecom service providers are using DSL (digital subscriber line) technology to serve individual households. They also are beginning to use fiber technology like PON (passive optical networking) to reach homes. IPTV networks will use variants of asymmetrical DSL (ADSL) and very‐high‐speed DSL (VDSL) to provide the required bandwidth to run an IPTV service to the household. The service provider will place a device (like a DSL modem) at the customer premises to deliver an Ethernet connection to the home network.

The Home Network

The home network distributes the IPTV service throughout the home. There are many different types of home networks, but IPTV requires a very robust high bandwidth home network that can only be accomplished today using wireline technology. The end point in the home network, to which the television set is connected, is the set‐top box (STB).

Middleware: The IPTV Enabler

The term IPTV middleware is used to describe the software packages associated with delivering an IPTV service. There are a variety of vendors in this space, each with their own unique approach to IPTV. The middleware selection by a service provider can impact the IPTV network architecture. The middleware is typically a client/server architecture where the client resides on the STB. The middleware controls the user experience and, because of this, it defines how the consumer interacts with the service. For example, the user interface and services available to a consumer (such as the electronic program guide (EPG), VOD or pay per view service), are all made available and controlled through the middleware. The ease of managing multiple services is a function of the two‐way IP network. This IP architecture provides a standard for applications and services to be integrated into the network, and IPTV becomes just one of these applications. The differentiating factor in an IP service model is convergence. Because of the common structure for applications and services, convergence can be realized for network elements, applications and operations/business support systems (OSS/BSS). Therefore, managing multiple services becomes a matter of managing the same services through the network and distributing them to multiple end‐user environments.

IPTV Video on Demand (VoD)

Video on demand(VoD) services operate in a different manner than linear television service as the IPTV system provides the subscriber with a unicast stream of programming with VCR‐like controls including pause, fast forward and rewind. The IPTV middleware controls the user interface and commercial experience/details of VOD and can also be extended to include services like subscription VOD and network based personal video recorder (PVR).

C O N T E N T – S E C U R I T Y

When discussing online content the insecurity of PC‐based content, and the piracy issues which have plagued the entertainment industry, often come to mind. Although not the primary focus of this paper, content security is a very important topic when discussing IPTV. Each IPTV solution vendor has a slightly different approach to the content security requirement. Usually vendors will partner with experts in this space to provide a complete solution to the service provider and one which will be acceptable to the content community.

S U M M A R Y

An IPTV service model offers a complete multi‐channel video line‐up as well as on‐demand programming. IPTV technology promises to make more content available because of the limitless nature of the switched digital video architecture theoretically giving access to niche content that has not previously been available on TV. Middleware vendors are focused on making more content available, making programming easier to access and making the solution portable (while maintaining security). The extensible user environment of IPTV increases the interactive nature of the consumer product and will allow single applications to be run over multiple end‐user devices, all over a single service delivery network.

IPTV also capitalizes on the two‐way nature of the IP network, enabling unprecedented interaction among subscribers, content providers and service providers. With a single standardized service delivery network, the integration and management of new services becomes simpler, reducing time to market and the cost of launching that new service. This provides marketing opportunities to use new applications to gain or keep market share and generate added revenue. About the BSF: The Broadband Services Forum is an international industry resource that provides a forum for dialogue and development, along with the tools and information to address the fundamental business and technology issues vital to the growth and health of the broadband industry. The Broadband Services Forum fosters collaboration across the broadband value chain including content, service and technology providers. The business and technical issues the organization addresses include:

• Innovative profitable services

• Reduced time to deployment

• Unified services and applications experience

• Network and device agnostic service delivery

• Simplified multi‐service architecture

• Business tools and rationale

For more information on the BSF please visit our website at http://www.broadbandservicesforum.org